Pesona Bawah Laut Ampenan Berpotensi Menjadi Wisata Bahari
Kecamatan Ampenan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), selama ini identik dengan kejayaan sejarahnya. Wilayah yang dikenal luas sebagai kawasan Kota Tua ini memancarkan daya tarik khas melalui arsitektur kolonial, bentangan garis pantai, serta dinamika kehidupan masyarakat pesisirnya. Namun, di balik citra visual wilayah pesisirnya yang saat ini terkesan kurang tertata, kawasan perairan Ampenan ternyata menyimpan kekayaan alam bawah laut yang sangat luar biasa dan elok.
Selama bertahun-tahun, potensi bawah laut Ampenan hampir tidak tersentuh oleh radar pariwisata arus utama (mainstream). Eksplorasi kawasan bahari Mataram umumnya berfokus pada destinasi populer di pulau-pulau kecil (gili) di sekitar Lombok. Namun, survei serta pengamatan mendalam yang dilakukan secara berkala oleh kementerian terkait membuktikan bahwa ekosistem laut Ampenan menyimpan keindahan terumbu karang yang melimpah dan sehat. Temuan ini menandai babak baru bagi pengembangan pariwisata Kota Mataram, mengubah persepsi publik terhadap potensi bahari di kawasan barat Pulau Lombok.
Penemuan Terumbu Karang Masif di Bawah Laut Ampenan
Keberadaan ekosistem bawah laut yang mempesona di Ampenan mulai mencuat ke publik setelah serangkaian aktivitas observasi langsung yang intensif oleh Balai Penataan Makassar Wilayah NTB, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pada Senin, 17 Juli, tim dari KKP kembali menerjunkan penyelam ke sejumlah titik perairan Ampenan untuk melakukan survei lokasi sekaligus menggelar aksi penyerahan dokumen penataan ruang laut. Momen eksplorasi bawah laut tersebut juga diwarnai dengan aksi berkesan, yaitu pengibaran bendera Merah Putih di kedalaman laut Ampenan untuk menyambut dan menyemarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Dari hasil pengamatan visual dan pengukuran lapangan, terumbu karang yang elok dan berukuran masif tersebut tumbuh secara alami pada jarak sekitar 1 kilometer dari bibir pantai Ampenan. Struktur karang yang kokoh dengan keberagaman hayati di sekitarnya tumbuh subur, menciptakan habitat ideal bagi berbagai jenis biota laut.
Koordinator Balai Penataan Makassar Wilayah NTB, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut KKP, Muhammad Barmawi, memberikan kesaksian langsung mengenai potensi besar ini.
"Kota Ampenan yang sekarang ini kurang bagus kondisi pesisirnya, tetapi di bawah laut menyimpan terumbu karang yang sangat indah," ujar Barmawi seusai melakukan penyelamatan observasi.
Berdasarkan pengalaman pribadinya melakukan penyelaman di berbagai destinasi kelas dunia seperti Raja Ampat di Papua Barat, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, hingga Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Barmawi menegaskan bahwa keindahan terumbu karang di Ampenan memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri yang mampu bersaing dengan kawasan konservaasi nasional lainnya. Penemuan ini mengejutkan banyak pihak mengingat lokasi terumbu karang berada cukup dekat dengan area perkotaan yang padat.
Mendorong Diversifikasi Destinasi Wisata
Keberadaan terumbu karang yang eksotik ini memberikan angin segar bagi sektor pariwisata Kota Mataram. Secara historis, kawasan Ampenan dipasarkan sebagai destinasi wisata budaya, sejarah, dan kuliner. Wisatawan yang berkunjung biasanya menikmati suasana Kota Tua, menelusuri peninggalan bangunan kolonial, menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset) di Pesisir Pantai Ampenan, atau mencicipi aneka jajanan tradisional dan makanan khas UMKM setempat.
Dengan adanya temuan ekosistem terumbu karang ini, ragam atraksi wisata di Ampenan dipastikan bertambah pesat. Potensi aktivitas bahari seperti penyelaman (diving) dan selam permukaan (snorkeling) kini menjadi opsi rekreasi baru yang sangat menjanjikan bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Langkah ini sejalan dengan upaya diversifikasi produk pariwisata berbasis lingkungan (ekowisata) di Nusa Tenggara Barat. Kehadiran atraksi wisata bawah laut di ibu kota NTB mempermudah akses bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan bahari tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke luar kota.
"Ampenan selama ini sudah dikenal sebagai Kota Tua, tetapi kita tambahkan atraksi wisatanya tidak hanya Kota Tua Ampenan, tetapi juga menyelam," tegas Barmawi.
Pembentukan Pokwisri Pertama di NTB
Sebagai bentuk komitmen dalam menjaga sekaligus memanfaatkan ruang laut secara legal dan berkelanjutan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merancang skema pengelolaan berbasis masyarakat. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pembentukan Kelompok Wisata Bahari (Pokwisri) Ampenan.
Pembentukan Pokwisri di Ampenan ini mencatatkan sejarah baru karena menjadi Pokwisri pertama yang dibentuk di wilayah Nusa Tenggara Barat di bawah naungan KKP. Dalam pelaksanaannya, Pokwisri Ampenan berkolaborasi erat dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.
1. Lahan Konservasi dan Pemanfaatan Ruang Laut
Untuk melegalkan dan mengamankan kawasan pengelolaan wisata bahari ini, KKP menyerahkan dokumen Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL). Dokumen ini memberikan wewenang pemanfaatan dan perlindungan ruang laut seluas 1 hektar di titik lokasi terumbu karang Ampenan.
2. Peran dan Tugas Pokwisri Ampenan
Pokwisri dirancang sebagai wadah pemberdayaan masyarakat lokal dalam mengelola potensi wisata bawah laut. Beberapa tugas utama Pokwisri antara lain:
- Pengelolaan dan Pemanduan Wisata: Mengatur jadwal dan alur aktivitas penyelaman serta snorkeling agar tidak merusak ekosistem terumbu karang.
- Pemberdayaan Pemandu Lokal (Guide): Melibatkan dan melatih warga sekitar pantai Ampenan untuk menjadi pemandu wisata bawah laut yang profesional dan bersertifikasi.
- Integrasi dengan UMKM: Mengirimkan dampak ekonomi positif kepada masyarakat darat dengan mempromosikan produk-produk kuliner khas, makanan tradisional, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal kepada para wisatawan setelah beraktivitas di laut.
- Pembinaan Usaha Wisata: Pembinaan berkala kepada pelaku usaha wisata bahari agar senantiasa menerapkan prinsip-prinsip pariwisata ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dampak Ekonomi dan Ekologis bagi Nusa Tenggara Barat
Penemuan dan pengembangan destinasi wisata bawah laut di Ampenan mempertegas kekayaan ekosistem bahari yang dimiliki oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan. Selain memperkuat kedaulatan laut dan konservasi ekosistem perairan, program ini diyakini membawa dua dampak besar.
1. Dampak Ekologis
Penetapan area pemanfaatan ruang laut seluas 1 hektar melalui dokumen KKPRL memastikan bahwa terumbu karang Ampenan akan mendapatkan perlindungan hukum dan pemantauan rutin. Hal ini meminimalisir risiko eksploitasi berlebihan (overfishing) atau perusakan habitat karang oleh aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
2. Dampak Ekonomi Sosial
Kehadiran wisatawan diving dan snorkeling membuka lapangan kerja baru bagi pemuda pesisir, penyedia sewa alat selam, jasa transportasi laut lokal, hingga pedagang kuliner tradisional. Sinergi antara ekosistem laut yang lestari dan pariwisata darat yang berkembang akan meningkatkan kesejahteraan warga Ampenan secara nyata.
Terumbu karang Ampenan yang masif dan indah adalah "harta karun" yang selama ini tersembunyi di balik laut Kota Tua Mataram. Melalui kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pokwisri, Pokdarwis, serta masyarakat lokal, Ampenan siap bertransformasi menjadi destinasi wisata bahari yang berdaya saing tinggi.
Kehadiran wisata bawah laut ini tidak hanya memperkaya pilihan atraksi wisata di Nusa Tenggara Barat, tetapi juga membawa misi penting dalam menjaga kelestarian terumbu karang dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat Pesisir Ampenan secara berkelanjutan.

Posting Komentar